PARTISIPASI
MASYARAKAT DUSUN SASAK ENDE DALAM MENDUKUNG KEGIATAN DESA WISATA
Oleh :
I Putu Pratya Permana (1105315069)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2013
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan Tugas Mata Kuliah Pengembangan Partisipatif
Masyarakat, yang berjudul
“Partisipasi
Masyarakat Dusun Sasak Ende Dalam Mendukung Kegiatan Desa Wisata” tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa tugas-tugas
ini tidak akan berhasil tanpa bimbingan dan arahan dari berbagai pihak
yang telah meluangkan waktunya dalam penyelesaian tugas yang diberikan. tugas
ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan
petunjuk yang mengarah pada penyempurnaan dari berbagai tugas ini. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
semua pihak demi kesempurnaan tulisan ini.
Denpasar,
Juni 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………….…… i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………….. ii
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang….………..…….............………………… 1
1.2 Rumusan Masalah……..………………………………….…… 2
1.3 Tujuan …….…………………………………….……………….. 2
1.4 Manfaat ………………………………………….…………….. 2
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Desa Wisata …..……………….…………………………….. 3
2.2 Partisipasi masyarakat ………………………………………… 4
2.3
Participatory Rural Appraisal (PRA)
………………………… 8
III.
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ………………………………… 9
3.2. Data Penelitian …………………………………………………. 9
3.3. Metode Pengumpulan Data
………………………………… 9
IV.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengembangan kerajinan tenun sebagai
penunjang pariwisata … 11
4.2 Pengaturan Kelembagaan atau Kelompok Untuk
Mendukung
Pariwisata
………..……………………………………………… 12
V.
KESIMPULAN
4.1
Simpulan...................................................................................... 14
4.2
Saran ........................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
.............................................................................................. 15
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suku Sasak dikenal sebagai etnis terbesar yang
mendiami Pulau Lombok. Suku ini adalah etnis asli yang telah mendiami Pulau
Lombok selama berabad-abad. Suku Sasak adalah penduduk asli yang menduduki
Pulau Lombok berjumlah sebanyak 2.6 juta orang (85% total penduduk Lombok).
Mereka mempunyai hubungan dengan orang Bali dari segi budaya dan bahasa.
Dibeberapa tempat sudah dilakukan upaya untuk melestarikan budaya asli suku
sasak yaitu dengan melestarikan budaya,
adat istiadat dan rumah asli suku sasak dan juga dengan tradisi
masyarakat yang masih terjaga. Salah satu Desa Suku Sasak yang terkenal sebagai
tujuan adalah Desa Sasak Ende.
Dusun Sade
terletak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Pulau Lombok, Provinsi
Nusa Tenggara Barat, berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Mataram.
Untuk menemukan dusun ini tidak lah sulit karena berada tepat di tepi jalan
raya Mataram - Praya (ibu kota Kabupaten Lombok Tengah) pada bagian luar dusun
terdapat papan nama besar bertulisan dusun Sade. Dusun Sade merupakan salah
satu perkampungan suku sasak yang merupakan suku asli masyarakat Lombok,
bangunan di dusun Sade ini masih sangat tradisional setiap bangunan terbuat
dari kayu dan bilik bambu pada dindingnya serta beratapkan ijuk jerami.
Sebagian
besar suku Sasak beragama Islam
yang di bawa pertama kali oleh para raja
jawa muslim pada abad ke-13 ke kalangan orang sasak lombok dari barat laut.
Islam segera menyatu dengan ajaran sufisme jawa yang penuh mistikisme. Wilayah utara terletak di kaki
Gunung Rinjani merupakan dataran tinggi yang subur. Sementara itu, wilayah
tengah berupa dataran rendah dan wilayah selatan tampak perbukitan yang
langsung berbatasan dengan pantai.
Desa Sasak Ende merupakan cagar budaya Suku Sasak yang masih
terjaga kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat
istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa
yang khas sehingga
diberdayakan sebagai tujuan wisata. Dengan ditetapkannya Desa Ende menjadi Desa
Wisata merupakan kesempatan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan mereka
dengan beberapa upaya yang bisa mereka lakukan. Seperti menjual kerajinan khas
daerah tersebut berupa kerajinan tenun tradisional Sasak dan membentuk
kelompok sederhana untuk berpartisipasi dalam kegiatan Desa Wisata.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat
diambil beberapa perumusan masalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana pengembangan kerajinan tenun di
Desa Sasak Ende sebagai penunjang pariwisata?
2.
Bagaimana pengaturan kelompok sederhana
untuk mendukung pariwisata?
1.3
Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai adalah :
1.
Mengetahui pengembangan kerajinan tenun
di Desa Sasak Ende sebagai penunjang pariwisata.
2.
Mengetahui pengaturan kelembagaan atau
kelompok untuk mendukung pariwisata.
1.4
Manfaat
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, yaitu :
1. Umum
Pihak-pihak lain
yang terkait dalam permasalahan Partisipasi Masyarakat Dusun Sasak Ende Dalam Mendukung
Kegiatan Desa Wisata, semoga ini dapat dimanfaatkan sebagai informasi tambahan.
2.
Penulis
Penulis mampu memahami lebih dalam mengenai Partisipasi
Masyarakat Dusun Sasak Ende Dalam Mendukung Kegiatan Desa Wisata. Selain itu penelitian
ini juga dapat menambah wawasan dan pengalaman yang sangat dibutuhkan dalam
dunia kerja.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Partisipasi masyarakat
2.1.1 Pengertian Partisipasi masyarakat
Partisipasi masyarakat merupakan suatu proses teknis
untuk memberikan kesempatan dan kewenangan yang lebih luas kepada masyarakat
untuk secara bersama-sama memecahkan berbagai persoalan. Carter dalam
Rustiningsih (2002) menyampaikan bahwa partisipasi masyarakat mempunyai peranan
yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dalam upaya meningkatkan proses
belajar masyarakat ; mengarahkan masyarakat menuju masyarakat yang bertanggung
jawab; mengeliminasi perasaan terasing sebagian masyarakat serta menimbulkan
dukungan dan penerimaan dari pemerintah.
Salah
satu ciri dari pembangunan desa adalah partisipasi aktif dari masyarakat desa
dalam proses pembangunan tersebut. Dengan demikian partisipasi masyarakat perlu
dibina dan terus ditingkatkan agar pembangunan desa mencapai sasaran yang
diharapkan. Mengenai pentingnya partisipasi aktif segenap lapisan masyarakat,
pendapat bintoro tjokroamidjojo (1986 : 222) sebagai berikut : pembangunan yang
meliputi segala segi kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya itu baru akan
berhasil, apabila merupakan kegiatan yang melibatkan partisipasi dari seluruh
rakyat di dalam suatu negara.
2.1.2 Alasan Masyarakat Berpartisipasi
Conyers (1991) menyebutkan tiga alasan mengapa
partisipasi masyarakat mempunyai sifat sangat penting, yitu :
1.
Pertama partispasi masyarakat merupakan
suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap
masyarakata, tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek akan
gagal,
2.
Kedua bahwa masyarakat akan lebih
mempercayai proyek atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses
persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan mengetahui seluk beluk proyek
tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap poyek tersebut.
3.
Ketiga , yang mendorong adanya
partisiapsi umum di banyak negara karena timbul anggapan bahwa merupakan suatu
hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan masyarakat mereka
sendiri. Hal ini selaras dengan konsep man-cetered development yaitu
pembangunan yang diarahkan demi perbaiakan nasib manusia.
2.2
Desa Wisata
2.2.1 Pengertian Desa Wisata
Desa Wisata merupakan
"Suatu kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang
mencerminkan keaslian pedesaan baik dari kehidupan sosial ekonomi, sosial
budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur
tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik
serta mempunyai potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen kepariwisataan,
misalnya : atraksi, akomodasi, makanan-minuman, cindera-mata, dan kebutuhan
wisata lainnya.
Desa wisata merupakan suatu bentuk
integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan
dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan
tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and
Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai
Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press).
Selain berbagai keunikan tersebut,
kawasan desa wisata juga dipersyaratkan memiliki berbagai fasilitas untuk
menunjangnya sebagai kawasan tujuan wisata. Berbagai fasilitas ini akan
memudahkan para pengunjung desa wisata dalam melakukan kegiatan wisata.
Fasilitas-fasilitas yang seyogyanya ada di suatu kawasan desa wisata antara
lain: sarana transportasi, telekomunikasi, kesehatan, dan akomodasi. Khusus
untuk sarana akomodasi, desa wisata dapat menyediakan sarana penginapan berupa
pondok-pondok wisata (home stay)
sehingga para pengunjung dapat merasakan suasana pedesaan yang masih asli.
2.2.2 Persyaratan desa
dijadikan sebagai desa wisata
Penetapan suatu desa
dijadikan sebagai desa wisata harus memenuhi persyaratan-persyaratan, antara
lain sebagai berikut :
1.
Aksesbilitasnya baik, sehingga mudah
dikunjungi wisatawan dengan menggunakan berbagai jenis alat transportasi.
2.
Memiliki obyek-obyek menarik berupa
alam, seni budaya, legenda, makanan local, dan sebagainya untuk dikembangkan
sebagai obyek wisata
3.
Masyarakat
dan aparat desanya menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap desa
wisata serta para wisatawan yang datang ke desanya.
4.
Keamanan di desa tersebut terjamin.
5.
Tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan
tenaga kerja yang memadai.
6.
Beriklim sejuk atau dingin.
7.
Berhubungan dengan obyek wisata lain
yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.
Pembangunan desa wisata mempunyai
manfaat ganda di bidang ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Manfaat ganda
dari pembangunan desa wisata, adalah:
1. Ekonomi : Meningkatkan perekonomian
nasional, regional, dan masyarakat lokal.
2. Sosial : Membuka lapangan kerja dan
lapangan berusaha bagi masyarakat di desa.
3. Politik :
* Internasional
: Menjembatani perdamaian antar bangsa di dunia.
* Nasional :
Memperkokoh persatuan bangsa, mengatasi disintegrasi
4. Pendidikan : Memperluas wawasan dan cara
berfikir orang-orang desa, mendidik cara hidup bersih dan sehat.
5. Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) :
Meningkatkan ilmu dan teknologi bidang kepariwisataan.
6. Sosial budaya : Menggali dan mengembangkan
kesenian serta kebudayaan asli daerah yang hampir punah untuk dilestarikan
kembali.
7. Lingkungan : Menggugah sadar lingkungan
(Darling), yaitu menyadarkan masyarakat akan arti pentingnya memelihara dan
melestarikan lingkungan bagi kehidupan manusia kini dan di masa datang.
2.3 Participatory
Rural Appraisal (PRA)
2.3.1
Pengertian Participatory Rural Appraisal (PRA)
Participatory
Rural Appraisal (PRA) atau Pemahaman Partisipatif Kondisi Pedesaan (PRA)
adalah pendekatan dan metode yang memungkinkan masyarakat secara bersama-sama
menganalisis masalah kehidupan dalam rangka merumuskan perencanaan dan
kebijakan secara nyata. Metode dan pendekatan ini semakin meluas dan
diakui kegunaannya ketika paradigma pembangunan berkelanjutan mulai dipakai
sebagai landasan pembangunan di negara-negara sedang berkembang. Dalam paradigma
pembangunan berkelanjutan, manusia ditempatkan sebagai inti dalam proses
pembangunan. Manusia dalam proses pembangunan tidak hanya sebagai
penonton tetapi mereka harus secara aktif ikut serta dalam perencanaa,
pelaksanaan, pengawasan dan menikmati hasil pembangunan. Metode dan
pendekatan yang tampaknya sesuai dengan tuntutan paradigma itu adalah metode
dan pendekatan yang partisipatif.
Metode PRA
mulai menyebar dengan cepat pada tahun 1990-an yang merupakan bentuk
pengembangan dari metode Pemahaman Cepat Kondisi Pedesaan (PCKP) atau Rapid
Rural Appraisal (RPA) yang menyebar pada tahun 1980-an. Kedua metode
tersebut saling berhubungan etar dan masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangannya dan bisa saling melengkapi. Namun dalam perkembangannya,
metode PRA banyak digunakan dalam proses pelaksanaan program pembangunan secara
partisipatif, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun pengawasannya.
2.3.2.
Tujuan penerapan metode PRA
Pada intinya PRA adalah sekelompok pendekatan atau metode
yang memungkinkan masyarakat desa untuk saling berbagi, meningkatkan, dan
menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan desa, serta
membuat rencana dan tindakan nyata (Chambers, 1996). Beberapa prinsip
dasar yang harus dipenuhi dalam metode PRA anatar lain adalah : saliang belajar
dan berbagi pengalaman, keterlibatan semua anggota kelompok dan informasi,
orang luar sebagai fasilitator, konsep triangulasi, serta optimalisasi hasil,
orientasi praktis dan keberlanjutan program (Rochdyanto, 2000). Metode
tersebut dipandang telah memiliki teknis-teknis yang dijabarkan cukup
operasional dengan konsep bahwa keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam
seluruh kegiatan. Pendekatan PRA memang bercita-cita menjadikan
masyarakatmenjadi peneliti, perencana, dan pelaksana pembangunan dan bukan
sekedar obyek pembangunan. Tekanan aspek penelitian bukan pada validitas
data yang diperoleh, namun pada nilai praktis untuk pengembangan program itu
sendiri. Penerapan pendekatan dan teknik PRA dapat memberi peluang yang
lebih besar dan lebih terarah untuk melibatkan masyarakat. Selain itu
melalui pendekatan PRA akan dapat dicapai kesesuaian dan ketepatgunaan program
dengan kebutuhan masyarakat sehingga keberlanjutan (sustainability)
program dapat terjamin.
2.3.3 Struktur program
Karena tujuan penerapan metode PRA adalah pengembangan
program bersama masyarakat, penerapannya perlu senantiasa mengacu pada siklus
pengembangan program. Gambaran umum siklus tersebut secara ringkas adalah
sebagai berikut :
- Pengenalan masalah/kebutuhan dan potensi, dengan maksud untuk menggali informasi tentang keberadaan lingkungan dan masyarakat secara umum.
- Perumusan masalah dan penetapan prioritas guna memperoleh rumusan atas dasar masalah dan potensi setempat.
- Identifikasi alternatif pemecahan masalah atau pengembangan gagasan guna membahas berbagai kemungkinan pemecahan masalah melalui urun rembug masyarakat.
- Pemilihan alternatif pemecahan yang paling tepat sesuai dengan kemampuan masyarakat dan sumberdaya yang tersedia dalam kaitannya dengan swadaya.
- Perencanaan penerapan gagasan dengan pemecahan masalah tersebut secara konkrit agar implementasinya dapat secara mudah dipantau.
- Penyajian rencana kegiatan guna menddapatkan masukan untuk penyempurnaannya di tingkat yang lebih besar.
- Pelaksanaan dan pengorganisasian masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan masyarakat.
- Pemantauan dan pengarahan kegiatan untuk melihat kesesuaiannya dengan rencana yang telah disusun.
- Evaluasi dan rencana tindak lanjut untuk melihat hasil sesuai yang diharapkan, masalah yang telah terpecahkan, munculnya massalah lanjutan, dan lain-lain.
III.
METODOLOGI
PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 14 juli – 16 juli 201, bertempat di Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut,
Lombok Tengah-NTB.
3.2. Data Penelitian
3.2.1 Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berasal dari Data
Primer, yaitu data yang didapat langsung dari dari wilayah penelititan (Satria,
2010). Data primer ini didapat langsung dari pemandu wisata dan masyarakat di
Dusun Sasak Sade dengan sistem wawancara (interview).
Data
sekunder adalah data yang didapat tidak secara langsung dari objek penelitian.
Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain
dengan berbagai cara atau metode baik secara komersial maupun non komersial.
Yaitu diambil dari internet yang bersangkutan dengan partisipasi masyarakat,
kajian PRA, dan sistem adat Sasak Sade.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian
ini akan dilakukan dengan cara:
3.3.1
Library
Research, yaitu
penelitian yang dilakukan dengan cara membaca literatur atau pustaka yang
berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
3.3.2
Field
Research, ialah cara
pengumpulan data yang diperoleh secara langsung dari lapangan. Adapun metode
dalam Field Research ini antara lain:
a.
Obeservasi,
yaitu pengamatan langsung terhadap objek ke lokasi penelitian.
b.
Wawancara,
ialah proses pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab kepada para
responden secara langsung
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengembangan
kerajinan tenun sebagai penunjang pariwisata
Desa Sasak Ende yang masyarakatnya masih hidup tradisional
membuktikan bahwa kemajuan peradaban di berbagai wilayah Indonesia tidak sama.
Sebagai desa tertua Suku Sasak, mata pencahariannya masih sederhana, yakni
bertani dan mengembangkan kerajinan tenun tradisional Sasak. Kerajinan tenun
memang telah menjadi salah satu penopang kehidupan sehari-hari warga Sasak.
Tenun tradisional ini telah dilakukan oleh 15 generasi sehingga lebih bersifat
turun-temurun.
Tenun tradisional dikerjakan oleh para wanita Sasak ketika
kegiatan bercocok tanam tidak bisa dilakukan akibat tidak adanya air. Hasil
tenunan mereka akan dijual distand – stand yang disediakan untuk para wisatawan
yang berkunjung kesana. Selain itu juga banyak hasil tenunan masyarakat disana
dijual ke Artshop yang ada disekitaran daerah-daerah wisata. Kain tradisional
tersebut dijual dengan harga tinggi, yakni Rp.100.000 – Rp.500.000. Harga kain
tenun produksi rumah tangga yang mahal bisa dipahami mengingat pendapatan dari
berjualan kain tenun tersebut sebagai sumber utama pendapatan keluarga.
Selain untuk dijual, kain tenun sasak juga digunakan untuk
pribadi sebagai pakean adat saat melakukan upacara adat, pernikahan, dan sebagainya.
Karena upacara adat disana tidak terlepas dari pakean adat yaitu kain tenun
khas Sasak Ende yang memiliki nilai spiritual.
Orang Sasak mengandalkan kaum wanita sedangkan para pria
Sasak terlihat kurang kreatif membantu wanita menenun. Ada kepercayaan setempat bahwa urusan
tenun-menenun hanya menjadi pekerjaan wanita. Desa Ende merupakan cagar budaya
Suku Sasak sehingga hanya diberdayakan sebagai tujuan wisata. Sayangnya, sarana
ekonomi yang mendukung kehidupan sehari-hari selain usaha menenun tidak
dikembangkan dan tidak dibina oleh pemerintah daerah.
Bahan untuk membuat kain tenunan tersebut masyarakat
biasanya menggunakan dari kulit kayu ataupun kapas yang
tumbuh liar dikebun-kebun. Kaum perempuan di desa
ini bekerja mulai dari mencari kapas yang tumbuh liar dikebun-kebun, lalu
dipintalnya menjadi benang. Proses membentuk kapas menjadi benang ternyata
lumayan lama, kapas yang telah dipetik dijemur hingga kering, lalu dihaluskan
dengan sebuah alat, dibentuk dengan cara menggulung menjadi benang, dan
selanjutnya diberi pewarna alami dari tumbuhan. Misalnya pinang untuk
memberi warna cokelat, kunyit untuk memberi warna kuning, kembang telang untuk
memberi warna biru, dan angsana untuk memberi warna merah. Mereka merendam benang tadi
tersebut kedalam pewarna alami yang sudah diolah menjadi cair. Setelah direndam
beberapa jam kemudian dijemur dibawah terik matahari sampai kering.
Setelah menjadi benang
dan diberi pewarna saatnya mengelompokkan benang-benang tersebut sesuai corak
yang dikehendaki kedalam semacam “cartrigde,” baru kemudian masuk ke alat
tenun. Semakin mahal tentu saja motifnya semakin rumit dan pengerjaannya
memakan waktu yang lama. Ada pula motif sakral bagi suku Sasak yaitu motif yang
menggambarkan leluhur, seorang penenun harus berpuasa terlebih dahulu sebagai
syarat. Sungguh usaha yang harus kita apresiasi sebetulnya. Sebagai gambaran
untuk membuat selembar kain sarung misalnya, dibutuhkan berpuluh-puluh gulungan
benang dan proses menenun yang lama, yakni sekitar satu bulan.
Karena pengolahan benang tersebut masih secara tradisional
maka hasil benah masih belum terlalu bagus jika dijadikan tenun, masih terasa
agak kasar pada kain tersebut. Tapi itulah daya tarik dari kain tersebut karena
mengandung nilai tradisional sehingga digemari oleh wisatawan yang berkunjung
kesana sebagai oleh-oleh khas Sasak Ende.
3.2
Pengaturan Kelembagaan atau Kelompok
Untuk Mendukung Pariwisata
Untuk mendukung kesuksesan kegiatan pariwisata di
Desa Sasak Ende, masyarakat membentuk suatu kelompok sederhana. Dalam kelompok
tersebut lagi dibentuk kelompok-kelompok kecil. Dikarenakan kesibukan
masyarakat disana yang mayoritas pekerjaannya sebagai petani, sehingga tidak
mungkin setiap harinya mereka berpastisipasi dalam kegiatan pariwisata. Maka
dari itu dibentuk kelompok-kelompok kecil yang nantinya bergiliran
berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan pariwisata. Kelompok ini digunakan
sebagai sistem jaga setiap harinya, mulai dari menjaga stand oleh-oleh khas
dari Sasak Ende, menjaga post sumbangan, post pungutan biaya masuk, sebagai guide
pemandu bagi para wisatawan.
Untuk orang yang menjaga stand oleh-oleh biasanya di
jaga oleh satu sampai dua orang, tergantung dari banyaknya wisatawan yang berkunjung
disana. Mereka dalam menawarkan oleh-oleh biasanya menggunakan bahasa khas
disana kemudian diterjemahkan oleh pemandu wisata. Bagi yang banyak bebelanja
seringkali diberikan potongan harga ataupun bonus barang untuk memotivasi
wisatawan lain agar berbelanja lebih banyak lagi.
Untuk orang yang menjaga stand post sumbangan di jaga
oleh dua sampai tiga orang. Biasanya dipost sumbangan dijaga oleh anak-anak
yang berumur 10 sampai 15 tahun karena bisa membuat wisatawan kasihan kepada
mereka. Mereka biasanya mengajak wisatawan menyumbang seikhlasnya untuk
pembangunan desa mereka, mulai dari perbaikan rumah, maupun digunakan untuk
biaya upacara adat. Mereka menggunakan bahasa khas Sasak Ende untuk mengajak
wisatawan menyumbangkan pundi-pundi uang mereka, dan kemudian diterjemahkan
oleh pemandu wisatawan.
Untuk orang yang menjaga stand pungutan biaya masuk
dijaga oleh dua atau tiga orang. Tugasnya memungut uang masuk kepada wisatawan
yang masuk ke kawasan Sasak Ende.
Dibagian pemandu wisatawan biasanya langsung
menyambut wisatawan yang baru sampai disana dan mengucapkan selamat datang
kepada wisatawan. Kemudian baru diajak berkeliling dan mengenalkan berbagai
kebiasaan, adat, kebudayaan, rumah tradisional, proses pembuatan tenun
tradisional Sasak Sade, dan lain sebagainya. Pemilihan pemandu wisatawantidak
dipilih sembarangan, karena untuk
menjadi pemandu diperlukan keterampilan berbicara yang baik, sopan dan benar
dengan wisatawan. Maka dipilih orang-orang yang berpendidikan dan memiliki
keterampilan berbicara sebagai pemandu wisatawan. Tetapi untuk wisatawan luar
negeri biasanya mereka diajak oleh agen pemandu wisata dari luar Desa Sasak Ende atau sebagai penerjemah, karena belum ada pemandu wisata lokal yang pintar
berbahasa inggris. Biasanya pemandu wisata lokal yang menjelaskan dan
diterjemahkan oleh pemandu wisata yang mengajak wisatawan tersebut.
V.
KESIMPULAN
DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN
1.
Tenun
tradisional dikerjakan oleh para wanita Sasak ketika kegiatan bercocok tanam
tidak bisa dilakukan akibat tidak adanya air. Bahan untuk membuat kain tenunan
tersebut masyarakat biasanya menggunakan dari kulit kayu ataupun kapas yang
tumbuh liar dikebun-kebun. Kaum perempuan di desa
ini bekerja mulai dari mencari kapas yang tumbuh liar dikebun-kebun, lalu dipintalnya
menjadi benang. Untuk membuat selembar kain sarung misalnya, dibutuhkan
berpuluh-puluh gulungan benang dan proses menenun yang lama, yakni sekitar satu
bulan. Dengan adanya Desa Wisata beberapa
wanita mengerjakan tenun disaat selah-selah waktu dari sawah, sebagai hasil
tambahan.
2. Untuk
mendukung kesuksesan kegiatan pariwisata di Desa Sasak Ende, masyarakat
membentuk suatu kelompok-kelompok kecil yang nantinya bergiliran berpartisipasi
dalam mensukseskan kegiatan pariwisata.
4.2 SARAN
1. Kerajinan tenun tradisional Sasak Ende merupakan kerajinan khas disana, diharapkan kedepan agar kerajinan
tersebut tetap eksis tidak hilang dimakan jaman. Kualitas dan motif dari
kerajinan tersebut supaya dapat ditingkatkan, agar wisatawan tidak merasa
monoton dengan hasil kerajinan tenun tersebut.
2. Diharapkan kelompok yang dibentuk
masyarakat tersebut dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam kegiatan
pariwisata agar wisatawan yang datang kesana merasa nyaman dan ingin kembali
kesana lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber :
desa sasak sade apa ende? yang bener kalo bikin tugas om, ente kuliah di ptn terkenal lho itu. ken ken ibake. lacuuur
BalasHapus